Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘ilmu komunikasi’ Category

imaginative-lego-clever-advertisementSuatu system yang terdiri dari berbagai organisasi / lembaga yang saling berinteraksi  dalam menjalankan peran yang saling berbeda demi mewujudkan  sebuah iklan atau proses periklanan. Adapun yang saling berkait tersebut adalah;

1.Pengiklan,

2.Biro iklan,

3.Perusahaan Media,

4. Lembaga Riset Pemasaran. Setidaknya ada empat komponen yang saling berinteraksi.

1.pengiklan/pemasang iklan

Pengiklan adalah inti dari system manajemen periklanan, analisa pasar, perencanan pengendalian, dan aktivitas pengambilan keputusan pada system ini, yakni pada pengiklan.

PENGIKLAN perlu memperhatikan identitas perusahaan, strategi pemasaran, serta produk apa andalan perusahaan itu. Atas dasar itulah maka strategi periklanan diharapkan dapat mendukung program pemasaran tanpa menghilangkan kesan konsumen terhadap (kepribadian perusahaan) / Karakter perusahaan

2.Biro iklan

Biro Iklan, dan jasa riset diharapkan membantu pengiklan dalam menganalisa peluang pasar, mengembangkan kreasi, mendesain iklan, serta pembelian media. Pasar atau konsumen yang dijangkau pengiklan melalui pesan iklan dapat  dipandang sebagai lembaga external, atau lembaga kontrol dalam kampanye suatu iklan yang sedang berjalan.

Konsep pasar dan konsumen sering kali digunakan untuk membedakan konsumen individual ataukah konsumen lembaga, atau konsumen kelompok yang menjadi sasaran pengiklan didalam mempersiapkan suatu “ Pesan “ yang harus dibawakan oleh IKLAN. Pesan mungkin  itu sampai pada khalayak atau tidak. Hal ini  perlu adanya penelitian lanjutan.

Perilaku konsumen, itu berbeda beda ini yang harus dipelajari lebih lanjut, apakah patut diperhitungkan atau  tidak, mampu atau tidak, ataukah konsumen itu menentukan sikap atau tidak. Konsumen dalam arti luas adalah sasaran bagi kampanye iklan dengan menggunakan media. Sehingga dalam hal ini biro Iklan perlu membuat copy iklan,dan riset pemasaran dalam menjalankan fungsinya untuk mengetahui bagaimana pasar yang sedang berjalan

Bagaimana tanggapan pasar terhadap barang /jasa yang diiklankan, sehingga dalam hal ini akan memahami  perilaku konsumen baik secara psikologis, sosiologis, maupun ekonomis adalah merupakan hal yang sangat penting dan wajar dalam memahami Manajemen Periklanan.

Peran Biro iklan adalah sangat urgent dalam mempertemukan pengiklan dengan media. Peran ini misalnya ditampakkan dalam pembelian waktu atau ruang dalam media.

PERAN BIRO IKLAN.

  1. What (positionining ) apa yang ditawarkan produk yang diiklankan.
  2. Who (segmen konsumen) siapa yang cocok dijadikan sasaran pasar dilihat dari segi demografis dan psikologis.
  3. How ( Kreatif ) bagaimana cara membujuk calon pembeli. Bagaimana  agar pesan itu menarik.
  4. Where ( media dan kegiatan) dimana saja daerah pasar yang digarap  serta menggunakan media apa saja ?
  5. When ( penjadwalan) kapan kegiatan tersebut dilaksanakan dan akan memerlukan waktu berapa?
  6. How Much (anggaran) seberapa mahal anggaran yang dikembangkan agar iklan ini efektif

3.Perusahaan Media

Dalam perusahaan media ini kita kenal dengan beberapa media lini bawah serta media lini atas. Media lini atas antara lain TV, Radio, Online.

Media lini bawah, Surat kabar, Majalah, Spanduk, Benner, Baliho, Selebaran, Leafleet, Surat langsung, 1 sheet, 24 sheet. Yang kesemuanya itu disebut sebagai media promosi.

4.Perusahaan jasa Riset.

Dalam kegiatan promosi yang jadi muaranya adalah  terdongkraknya nilai penjualan. Dalam hal ini apakah dengan promosi yang sudah jelas mengeluarkan banyak financial yang jelas mengurangi keuntungan apakah benar sudah mampu meningkatkan volume penjualan ?

Untuk menjawab hal itu maka diperlukan kegiatan untuk pengamatan atau penelitian. Karena tanpa adanya penelitian lanjutan. BEAYA  promosi  yang besar  akan   mubasir ?

Manfaat  jasa riset,  penting untuk memetakan kearah mana iklan, dari sisi pengiklan, juga  yang  dari sisi kreatif, riset dari sisi penjualan, riset dari sisi  pemahaman khalayak  pesan iklan yang di kampanyekan, sampai tidak ke benak khalayak.

STRATEGI KREATIF

Strategi kreatif ini perlu dikembangkan oleh sebuah lembaga Iklan atau biro adv. Ada kalanya kreatif ini merupakan lembaga  tersendiri yang berdiri menerima order dari pengiklan atau biro iklan.   Meskipun demikian, jika iklan terlalu kreatif  tidak disukai bagi orang bisnis pemasaran di Amerika.  Karena menurut pengalaman mereka bisa jadi  dengan terlalu kreatifnya suatu pesan iklan justru akan mengaburkan tujuan iklan itu sendiri. Yang diingat bukan pesan komunikasinya, akan tetapi pesan yang terlalu kreatif tadi.  Sehingga dari hasil survai pada konsumen tercatat dalam ingatan mereka adalah bukan pesan iklan itu akan tetapi malahan kreatifitas pesan itu, dan kelucuan yang mereka buat sebagai penguat pesan.

Strategi kreatif adalah merupakan suatu istilah  yang memiliki beberapa arti sangat tergantung dari mana dan siapa yang melihatnya.  Akan tetapi dari segi manapun ia dilihat sebaiknya tidak terlepas dari strategi pemasaran secara keseluruhan.

Perumusan strategi kreatif

1)      Tahap pertama, mengumpulkan dan mempersiapkan informasi pemasaran yang tepat. Bagaimana tentang produk/jasa yang akan di iklankan, bagaimana sasarannya. Bagaimana pula kompetitornya.

2)      Tahap kedua, kemudian menetapkan suatu platform /posisi, dalam penjualan serta menentukan tujuan iklan yang akan dihasilkan, dalam tujuan kedua ini bagaimana orang kreatif menetapkan cara iklan yang paling efektif

Iklan

Read Full Post »

DEFINISI:

1)      Adalah suatu pengaturan operasional yang dibuat sebagai bimbingan ke arah tercapainya suatu tujuan atau terciptanya berbagai tujuan secara berimbang.

2)      Adalah penerapan secara sistematis dari pengetahuan untuk mengontrol dan mengarahkan arah kecenderungan perubahan menuju kepada tujuan yang ditetapkan.

3)      Adalah usaha yang dilakukan secara sadar terorganisir dan terus-menerus, dilakukan guna memilih alternatif untuk mencapai tujuan tertentu.

MAKNA:

1)      Mengenali diri

2)      Mengenali apa/siapa yang sedang dihadapi

3)      Upaya pemecahan masalah untuk perbaikan

4)      Optimalisasi resources

5)      Bekerja/bertindak secara sistematis, terorganisir dan berkesinambungan

6)      Bekerja/bertindak secara transparan dan accountable.

7)      Measurable Step-by-step activity.

FUNGSI:

1)      Membantu lembaga/institusi menempanatkan diri pada posisi antara “Winner and Looser”.

2)      Membantu memfokuskan kegiatan/program/perhatian pada isu-isu yang dan alternatif/pilihan yang krusial.

3)      Membantu mengembangkan kerangka pikir strategis di antara top manajer dan para manajer pada tingkatan/level di atas maupun di bawahnya.

MANFAAT:

1)      Alat/instrumen evaluasi dan monitoring,

2)      Pedoman eksekusi/pelaksanaan program,

3)      Memudahkan pencapaian tujuan pengembangan,

4)      Sebagai “peta” penelusuran/pencarian masalah/kendala apabila ditemukan ada program yang tidak berjalan atau tersendat dalam pelaksanaanny.

PERKEMBANGAN PARADIGMA PERENCANAAN

1)      Basic financial planning: mencari/mengembangkan kontroloperasional yang lebih baik melalui budgeting yang sesuai.

2)      Forecast-based planning: mencari/mengembangkan model perencanaan yang lebih baik bagi pertumbuhan dengan cara mencoba memprediksi setelah satu tahun ke depan.

3)      Externally oriented planning: senantiasa meningkatkan derajad responsiveness terhadap perubahan pasar dan competitor dengan cara berfikir strategis.

4)      Strategic management: mengembangkan model pengelolaan terhadap resources yang ada untuk mendapatkan keuntungan yang kompetitif, sekaligus membuka peluang untuk masa selanjutnya.

TUNTUTAN PERUBAHAN PARADIGMA

1)      Kompleksitas kebutuhan dan keinginan stake-holder, serta perubahan kebutuhan konsumen/user yang berkembang dengan pesat.

2)      Persaingan yang semakin ketat di antara para kompetitor.

3)      Munculnya kesadaran bahwa konsumen/klien dan para user yang lain merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan eksistensi lembaga/institusi yang bersangkutan.

MANAJEMEN STRATEGIS

1)      Adalah serangkaian keputusan dan aksi/tindakan yang tersusun dalam rumusan perencanaan dan implementasinya, yang dirancang untuk mencapai tujuan lembaga/institusi yang bersangkutan.

2)      Manajemen strategis, secara khusus, memusatkan perhatiannya pada analisis masalah peluang yang tersedia pada tingkatan manajerial. Manajemen strategis berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup sebuah lembaga/organisasi/institusi.

CIRI MANAJEMEN STRATEGIS

1)      Langka: keputusan sstrategis biasanya tidak umum dan tidak mempunyai preseden yang bisa diikuti.

2)      Konsekuensial: keputusan strategis membutuhkan resource yang memadai dan menuntut komitmen yang tinggi

3)      Percursive: keputusan strategis menciptakan kondisi dimana tidak ada lagi banyak kebijakan tetapi lebih banyak aksi.

TAHAPAN PROSES PERENCANAAN

1)      Formulasi misi lembaga: pernyataan umum tentang tujuan, filosofi dan alasan berdirinya/keberadaan lembaga yang bersangkutan.

2)      Melakukan analisis terhadap kondisi dan kemampuan internal lembaga (:evaluasi diri).

3)      Melakukan analisis/penilaian terhadap lingkungan eksternal lembaga, yang meliputi para kompetitor dan faktor-faktor eksternal lainnya.

4)      Mengidentifikasi opsi-opsi alternatif, dengan mempertimbangkan existing resources dan lingkungan eksternalnya.

5)      Menganalisa dan menyusun prioritas opsi-opsi tersebut dengan mengacu pada visi/misi lembaga dan mempertimbangkan efektifitas dan efisiensinya dalam mencapai tujuan.

6)      Memilih/merumuskan serangkaian tujuan jangka panjang dan grand strategy yang akan diwujudkan melalui pilihan atau opsi terpilih.

7)      Menyusun tujuan tahunan dan strategi jangka pendek yang sejalan/sesuai dengan tujuan jangka panjang dan grand strategies yang dipilih.

8)      Implementasi opsi-opsi strategis dengan cara alokasi sumber keuangan, sesuai dengan tugas, orang, struktur teknologi dan sistem reward.

9)      Mengevaluasi keberhasilan/kegagalan proses-proses strategis sebagai masukan bagi pembuatan keputusan berikutnya.

Read Full Post »

1. Basic financial planning: mencari/mengembangkan kontrol operasional yang lebih baik melalui budgeting yang sesuai.
Basic financial planning merupakan langkah awal untuk memulai usaha, yakni apakah suatu usaha yang akan dibuka telah sesuai dengan dana atau modal yang dimliki. Apakah perencanaan yang telah dibuat akan sesuai dan klop dengan dana awal yang dimiliki. Jika tidak, maka harus mencari alternative pendanaan dari luar. Bisa dengan bantuan lembaga keuangan seperti bank dan koperasi. Hal ini juga sesuai dengan definisi perencanaan, bahwa harus diperhitungkan bagaimana bisa mengembalikan pinjaman dari bank jika meminjam. Maka harus ada penerapan secara sistematis dari pengetahuan Untuk Mengontrol dan mengarahkan arah kecenderungan Perubahan menuju kepada tujuan yang ditetapkan.

2. Forecast-based planning: mencari/mengembangkan model perencanaan yang lebih baik bagi pertumbuhan dengan cara mencoba memprediksi setelah satu tahun ke depan.
Pengembangan memang membutuhkan waktu, yaitu untuk mengumpulkan data yang cukup untuk melakukan pengembangan. Pengembangan dilakukan dengan analisis data yang telah ada dan terkumpul yang akan memberikan tuntunan bagi perencanaan itu sendiri. Seperti pada ilmu matematika juga, pengalaman yang diperoleh satu tahun bisa dijadikan tolok ukur perkembangan selanjutnya. Hal itu untuk memprediksikan masa depan dengan perhitungan yang sistematis. Perencanaan ini meliputi penentuan alternative-alternatif tindakan yang dapat diimplementasikan seandainya perencanaan yang sedang berlangsung tidak sesuai karena perubahan keadaan.

3. Externally oriented planning: senantiasa meningkatkan derajad responsiveness terhadap perubahan pasar dan competitor dengan cara berfikir strategis.
Perencanaan seperti ini perlu bahwa apakah usaha yang sedang berlangsung akan terus dalam keadaan yang baik? Atau justru merosot kedalam keadaan yang memburuk. Berpikir strategis berguna untuk menanggapi perubahan pasar dan para pesaing. Hal ini sesuai dengan definisi bahwa usaha yang dilakukan secara sadar terorganisir dan terus-menerus, dilakukan guna memilih alternatif untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara usaha harus peka terhadap perubahan selera pasar yang dinamis.

4. Strategic management: mengembangkan model pengelolaan terhadap resources yang ada untuk mendapatkan keuntungan yang kompetitif, sekaligus membuka peluang untuk masa selanjutnya.
Keterkaitan dengan usaha yang dilakukan secara sadar terorganisir dan terus-menerus, dilakukan guna memilih alternatif untuk mencapai tujuan tertentu, karena resource yang digunakan hanya dari sumber internal.

Tahap perencanaan strategi;
a) Identifikasi tujuan dan sasaran
b) Penilaian kenerja berdasarkan tujuan dan sasaran yang ditetapkan.
c) Penentuan perencanaan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran.
d) Implementasi perencanaan strategi.
e) Evaluasi hasil dan perbaikan proses perencanaan strategi.
Tujuan dari perencanaan strategi adalah mendapatkan keuntungan kompetitif(competitive advantage).

Read Full Post »

Media massa telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi massa dewasa ini bahkan ketergantungan manusia pada media massa sudah sedemikian besar. Media komunikasi massa abad ini yang tengah digandrungi masyarakat adalah televisi. Joseph Straubhaar & Robert La Rose dalam bukunya Media Now, menyatakan; the Avarege Person spend 2600 Hours per years watcing TV or listening to radio. That,s 325 eight-hourdays, a full time job. We spend another 900 hours with other media, including, newpaper, books, magazines, music, film, home video, video games and the internet, that about hours of media use – more time than we spend on anything else, including working or sleeping (straubhaar & La Rose, 2004 : 3)
cr
Di Indonesia berdasarkan survey Ac Nielsen di tahun 1999 bahwa 61% sampai 91% masyarakat Indonesia suka menonton televisi, hasil ini lebih lanjut dijelaskan bahwa “hampir 8 dari 10 orang dewasa di kota-kota besar menonton televisi setiap hari dari 4 dari 10 orang mendengarkan radio” ( Media Indonesia, 16- Nopember 1999). Hal ini menunjukkan bahwa menonton televisi merupakan “aktivitas” utama masyarakat yang seakan tak bisa ditinggalkan. Realitas ini sebuah bukti bahwa televisi mempunyai kekuatan menghipnotis pemirsa, sehingga seolah-olah televisi telah mengalienasi seseorang dalam agenda settingnya.

Perkembangan pertelevisian di Indonesia dua tahun terakhir ini memang amat menarik, televisi-televisi swasta bermunculan melengkapi dan memperkaya TV yang sudah ada. Tercatat lebih dari 17 TV yang ada di Indonesia adalah TVRI, RCTI, SCTV, TPI, AN-TV, Indosiar, Trans-TV, TV-One, Trans7, TV Global, dan Metro TV ditambah TV-TV lokal seperti Bandung TV, STV, Padjadjaran TV dan sebagainya. Fenomena ini tentu saja menggembirakan karena idealnya masyarakat Indonesia memiliki banyak alternatif dalam memilih suguhan acara televisi.

Namun realitasnya, yang terjadi adalah stasiun-stasiun TV di Indonesia terjebak pada selera pasar karena tema acara yang disajikan hampir semua saluran TV tidak lagi beragam tetapi seragam di mana informasi yang sampai kepada publik hanya itu-itu saja tidak menyediakan banyak alternatif pilihan. Beberapa format acara TV yang sukses di satu stasiun TV acapkali diikuti oleh TV-TV lainnya, hal ini terjadi hampir pada seluruh format acara TV baik itu berita kriminal dan bedah kasus, tayangan misteri, dangdut, film india, telenovela, serial drama Asia, Infotainment, dan lain-lain.

_______________
*) Dosen pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Media watch mencatat bahwa selama ini atas nama mekanisme pasar, pilihan format isi pertelevisian tak pernah lepas dari pertimbangan ”tuntunan khalayak” menurut perspektif pengelola. Berbagai program acara dibuat hanya untuk melayani kelompok budaya mayoritas yang potensial menguntungkan, sementara kelompok minoritas tersisihkan dari dunia simbolik televisi.

Ukuran televisi hanya dilihat berdasarkan rating tidak memperhatikan faktor fungsional, akibatnya ada kelompok masyarakat yang dapat menikmati berbagai stasiun TV karena berada di wilayah yang berpotensi, tapi ada masyarakat yang tak terlayani sama sekali atau menangkap acara televisi namun isinya secara kultural tidak sesuai dengan kebutuhan mereka.

Keadaan ini sebelumnya terjadi juga pada negara adi kuasa seperti Amerika Serikat penelitian di negara ini menunjukkan bahwa surat kabar dan televisi mengarahkan sasaran liputan mereka terutama pada kelompok elite dan tak memperdulikan sebagian besar warga (Kovach, 2003:66) dalam pemenuhan fungsi informasi dan hiburan belakangan ini, TV-TV gencar menayangkan berita-berita yang disebut dengan infotainment. Kehadiran infotainment amat mewarnai program-program acara di televisi bahkan menempati posisi rating tertinggi yang berarti acara-acara model seperti ini amat digemari oleh masyarakat. Pengiklan pun tak urung berbondong—bondong memasang iklan pada setiap tayangannya tentu saja semakin mamacu pengelola media untuk berloma-lomba membuat heboh acara infotainment yang dikemasnya.

Dipelopori oleh tayangan kabar-kabari beberapa tahun silam di RCTI, saat ini tidak kurang dari 50 judul acara serupa muncul menyebar di semua stasiun TV termasuk TVRI bahkan Metro TV. Semua format yang tampil mengatasnamakan infotainment sebagai penggabungan dari kata ”Information’ dan Entertainment’ (Informasi dan Hiburan) wujudnya merupakan paket tayangan informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan & informasi yang menghibur.

Jika kita cermati tampaknya tayangan-tayangan infotainment yang mengklaim sebagai sebuah produk jurnalisme seringkali berorientasi bukan pada efek yang timbul dalam masyarakat tetapi produk komersial tersebut apakah mampu terjual dan mempunyai nilai ekonomis atau tidak, sehingga tidak memperhatikan apa manfaatnya bagi pemirsa ketika menginformasikan adegan ”syur” Mayangsari – Bambang Soeharto, exploitasi kawin cerai para selebritis, konflik, gaya hidup, serta kebohongan publik yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan selebritis.

Fenomena ini menandakan satu permasalahan di dalam kehidupan nilai-nilai ”filosofis” televisi di Indonesia. Televisi Indonesia semakin hari semakin memperlihatkan kecenderungan mencampuradukan berita dan hiburan melalui format tayangan ”infotainment”. Kebergunaan berita menjadi berkurang bahkan menyimpang. Hal ini disebabkan di antaranya oleh tekanan pasar yang makin meningkat.

1. Kerangka Teoritis
Louis O. Katsoff dalam bukunya ”Elements of Philosophy” menyatakan bahwa kegiatan filsafat merupakan perenungan, yaitu suatu jenis pemikiran yang meliputi kegiatan meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan gagasan yang lainnya, menanyakan ”mengapa”’ mencari jawaban yang lebih baik ketimbang jawaban pada pandangan mata. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keutuhan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar dapat diperoleh pemahaman. Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini. Menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu dalam bentuk yang sistematik. Filsafat membawa kita kepada pemahaman & pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Tiga bidang kajian filsafat ilmu adalah epistemologis, ontologis, dan oksiologis. Ketiga bidang filsafat ini merupakan pilar utama bangunan filsafat.

Epistemologi: merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia yang bersangkutan dengan kriteria bagi penilaian terhadap kebenaran dan kepalsuan. Epistemologi pada dasarnya adalah cara bagaimana pengetahuan disusun dari bahan yang diperoleh dalam prosesnya menggunakan metode ilmiah. Medode adalah tata cara dari suatu kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang & mapan, sistematis & logis.

Ontologi: adalah cabang filsafat mengenai sifat (wujud) atau lebih sempit lagi sifat fenomena yang ingin kita ketahui. Dalam ilmu pengetahuan sosial ontologi terutama berkaitan dengan sifat interaksi sosial. Menurut Stephen Litle John, ontologi adalah mengerjakan terjadinya pengetahuan dari sebuah gagasan kita tentang realitas. Bagi ilmu sosial ontologi memiliki keluasan eksistensi kemanusiaan.

Aksiologis: adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan nilai seperti etika, estetika, atau agama. Litle John menyebutkan bahwa aksiologis, merupakan bidang kajian filosofis yang membahas value (nilai-nilai) Litle John mengistilahkan kajian menelusuri tiga asumsi dasar teori ini adalah dengan nama metatori. Metatori adalah bahan spesifik pelbagai teori seperti tentang apa yang diobservasi, bagaimana observasi dilakukan dan apa bentuk teorinya. ”Metatori adalah teori tentang teori” pelbagai kajian metatori yang berkembang sejak 1970 –an mengajukan berbagai metode dan teori, berdasarkan perkembangan paradigma sosial. Membahas hal-hal seperti bagaimana sebuah knowledge itu (epistemologi) berkembang. Sampai sejauh manakah eksistensinya (ontologi) perkembangannya dan bagaimanakah kegunaan nilai-nilainya (aksiologis) bagi kehidupan sosial. Pembahasan ; Berita infotainment dalam kajian filosofis. Kajian ini akan meneropong lingkup persoalan di dalam disiplin jurnalisme, sebagai sebuah bahasan dari keilmuan komunikasi, yang telah mengalami degradasi bias tertentu dari sisi epistemologis, ontologis bahkan aksiologisnya terutama dalam penyajian berita infotainment di televisi.

2. Kajian Aspek Epistemologis:
Dalam berita hal terpenting adalah fakta. Pada titik yang paling inti dalam setiap pesannya pelaporan jurnalisme mesti membawa muatan fakta. Setiap kepingan informasi mengimplikasikan realitas peristiwa kemasyatakatan. Tiap pesan menjadi netral dari kemungkinan buruk penafsiran subyektif yang tak berkaitan dengan kepentingan–kepentingan kebutuhan masyarakat. Charnley (1965 : 22.30) mengungkapkan kunci standardisasi bahasa penulisan yang memakai pendekatan ketepatan pelaporan faktualisasi peristiwa, yaitu akurat, seimbang, obyektif, jelas dan singkat serta mengandung waktu kekinian. Hal-hal ini merupakan tolok ukur dari ”The Quality of News” dan menjadi pedoman yang mengondisikan kerja wartawan di dalam mendekati peristiwa berita & membantu upaya tatkala mengumpulkan & mereportase berita. Secara epistemologis cara-cara memperoleh fakta ilmiah yang menjadi landasan filosofis sebuah berita infotainment yang akan ditampilkan berdasarkan perencanaan yang matang, mapan, sistematis & logis.

3. Kajian Aspek Ontologis
Dalam kajian berita infotainment ini bahasan secara ontologis tertuju pada keberadaan berita infotainment dalam ruang publik. Fenomena tentang berita infotainment bukan gejala baru di dunia jurnalisme. Pada abad 19, pernah berkembang jurnalisme yang berusaha mendapatkan audiensnya dengan mengandalkan berita kriminalitas yang sensasional, skandal seks, hal-hal, yang menegangkan dan pemujaan kaum selebritis ditandai dengan reputasi James Callender lewat pembeberan petualangan seks, para pendiri Amerika Serikat, Alexande Hamilton & Thomas Jeferson merupakan karya elaborasi antara fakta dan desus-desus. Tahun itu pula merupakan masa kejayaan William Rudolf Hearst dan Joseph Pulitzer yang dianggap sebagai dewa-dewa ”Jurnalisme kuning.”

Fenomena jurnalisme infotainment kembali mencuat ketika terjadi berita hebohnya perselingkuhan Presiden Amerika ”Bill Clinton- Lewinsky”. Sejak saat itu seakan telah menjadi karakteristik pada banyak jaringan TV di dunia. Di Indonesia, fenomena ini juga bukan terbilang baru. Sejak zaman Harmoko (Menteri Penerangan pada saat itu) banyak surat kabar–surat kabar kuning muncul & diwarnai dengan antusias masyarakat. Bahkan ketika Arswendo Atmowiloto menerbitkan Monitor semakin membuat semarak ”Jurnalisme kuning di Indonesia”. Pasca Orde Baru ketika kebebasan pers dibuka lebar-lebar semakin banyak media baru bermunculan, ada yang memiliki kualitas tetapi ada juga yang mengabaikan kualitas dengan mengandalkan sensasional, gosip, skandal dan lain-lain. Ketika tayangan Cek & Ricek dan Kabar Kabari berhasil di RCTI, TV lainnya juga ikut-ikut menayangkan acara gosip. Dari sinilah cikal bakal infotainment marak di TV kita. Fenomena infotainment merupakan hal yang tidak bisa terhindarkan dari dunia jurnalisme kita. Pada realitasnya ini banyak disukai oleh masyarakat dengan bukti rating tinggi (public share tinggi)

4. Kajian pada aspek aksiologis
Secara aksiologis kegunaan berita infotainment dititik beratkan kepada hiburan. Pengelola acara ini menarik audiens hanya dengan menyajikan tontonan yang enak dilihat sebagai sebuah strategi bisnis jurnalisme. Hal ini akan berdampak pada menundanya selera dan harapan sejumlah orang terhadap sesuatu yang lain. Ketika etika infotainment telah salah langkah mencoba untuk ”menyaingkan” antara berita & hiburan. Padahal nilai dan daya pikat berita itu berbeda, infotainment pada gilirannya akan membentuk audiens yang dangkal karena terbangun atas bentuk bukan substansi.

Pengelola media melalui berita infotainment terkadang tidak lagi mempertimbangkan moral sebagai pengontrol langkah mereka sehingga begitu mengabaikan kepentingan masyarakat.Hal itulah yang terjadi dengan berita infotainment di Indonesia, beberapa kaidah yang semestinya dijalankan malah diabaikan demi kepentingan mengejar rating dan meraup keuntungan dari pemasang iklan.

Read Full Post »